Kurt Lewin lahir pada tanggal 9 September 1890 disuatu desa kecil di Prusia, daerah dosen. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara, Lewin menyelesaikan sekolah menengahnya di Berlin tahun 1905 kemudian ia masuk Universitas di Freiburg dengan maksud belajar ilmu kedokteran, tetapi ia segera melepaskan idenya ini dan setelah satu semester belajar psikologi pada universitas di sana. Setelah meraih gelar doktornya pada tahun 1914, Lewin bertugas di ketentaraan Jerman selama empat tahun. Pada akhir perang ia kembali ke Berlin sebagai instruktur dan asisten penelitian pada lembaga Psikologi.
Lewin menghabiskan sisa sisa hidupnya di Amerika Serikat. Ia adalah profesor dalam bidang psikologi anak-anak pada Universitas Cornell
selama dua tahun (1933-1935) sebelum dipanggil ke Universitas negeri
Iowa sebagai profesor psikologi pada Badan Kesejahteraan Anak. Pada
tahun 1945, Lewin menerima pengangkatan sebagai profesor dan direktur
Pusat Penelitian untuk dinamika kelompok di Institut Teknologi Massachussetts. Pada waktu yang sama, ia menjadi direktur dari Commission of Community Interrelation of The Amerika Jewish Congress, yang
aktif melakukan penelitian tentang masalah masalah kemasyarakatan. Ia
meninggal secara mendadak karena serangan jantung di Newton Ville,
Massachussetts, pada tanggal 9 Februari 1947 pada usia 56 tahun.
A. Konsep Utama Teori Lewin
Bagi
Lewin, teori medan bukan suatu sistem psikologi baru yang terbatas pada
suatu isi yang khas: teori medan merupakan sekumpulan konsep dengan
dimana seseorang dapat menggambarkan kenyataan psikologis. Konsep konsep
ini harus cukup luas untuk dapat diterapkan dalam semua bentuk tingkah
laku, dan sekaligus juga cukup spesifik untuk menggambarkan orang
tertentu dalam suatu situasi konkret. Lewin juga menggolongkan teori
medan sebagai “suatu metode untuk menganalisis hubungan hubungan kausal dan untuk membangun konstruk-konstruk ilmiah”
Ciri ciri utama dari teori Lewin, yaitu :
1. Tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi
2. Analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian bagian komponennya dipisahkan
3. Orang yang kongkret dalam situasi yang kongkret dapat digambarkan secara matematis.
Konsep
konsep teori medan telah diterapkan Lewin dalam berbagai gejala
psikologis dan sosiologis, termasuk tingkah laku bayi dan anak anak ,
masa adolsen , keterbelakangan mental, masalah masalah kelompok
minoritas, perbedaan perbedan karakter nasional dan dinamika kelompok.
Dibawah
ini kita akan membahas Teori Lewin tentang struktur, dinamika dan
perkembangan kepribadian yang dikaitkan dengan lingkungan psikologis,
karena orang orang dan lingkungannya merupakan bagiab bagian ruang
kehidupan (life space) yang saling tergantung satu sama lain. Life space digunakan Lewin sebagai istilah untuk keseluruhan medan psikologis.
B. Struktur Kepribadian
Menurut
Lewin sebaiknya menggambarkan pribadi itu dengan menggunakan definisi
konsep-konsep struktural secara spasial. Dengan cara ini , Lewin
berusaha mematematisasikan konsep-konsepnya sejak dari permulaan.
Matematika Lewin bersifat non-motris dan menggambarkan hubungan-hubungan
spasial dengan istilah-istilah yang berbeda. Pada dasarnya matematika
Lewin merupakan jenis matematika untuk menggambarkan interkoneksi dan
interkomunikasi antara bidang bidang spasial dengan tidak memperhatikan
ukuran dan bentuknya.
Pemisahan
pribadi dari yang lain-lainnya di dunia dilakukan dengan menggambarkan
suatu figur yang tertutup. Batas dari figur menggambarkan batas batas
dari entitas yang dikenal sebagai pribadi. Segala sesuatu yang terdapat
dalam batas itu adalah P (pribadi): sedangkan segala sesuatu yang
terdapat di luar batas itu adalah non-P.
Selanjutnya
untuk melukiskan kenyataan psikologis ialah menggambar suatu figur
tertutup lain yang lebih besar dari pribadi dan yang melingkupnya.
Bentuk dan ukuran figur yang melingkupi ini tidak penting asalkan ia
memenuhi dia syarat yakni lebih besar dari pribadi dan melingkupimya.
Figur yang baru ini tidak boleh memotong bagian dari batas lingkaran
yang menggambarkan pribadi.
Lingkaran
dalam elips ini bukan sekedar suatu ilustrasi atau alat peraga,
melainkan sungguh-sungguh merupakan suatu penggambaran yang tepat
tentang konsep-konsep struktural yang paling umum dalam teori Lewin,
yakni pribadi, lingkungan psikologis dan ruang hidup.
a. Ruang Hidup
Ruang
hidup mengandung semua kemungkinan fakta yang dapat menentukan tingkah
laku individu. Ruang hidup meliputi segala sesuatu yang harus diketahui
untuk memahami tingkah laku kongkret manusia individual dalam suatu
lingkungan psikologis tertentu pada saat tertentu. Tingkah laku adalah
fungsi dari ruang hidup.
Secara matematis : TL = f( RH)
Fakta
fakta non psikologis dapat dan sungguh sungguh mengubah fakta fakta
psikologis. Fakta fakta dalam lingkungan psikologis dapat juga
menghasilkan perubahan perubahan dalam dunia fisik. Ada komunikasi dua
arah antara ruang hidup dan dunia luar bersifat dapat ditembus
(permeability), tetapi dunia fisik (luar) tidak dapat berhubungan
langsung dengan pribadi karena suatu fakta harus ada dalam lingkungan
psikologis sebelum mempengaruhi/dipengaruhi oleh pribadi.
b. Lingkungan Psikologis
Meskipun
pribadi dikelilingi oleh lingkungan psikologisnya, namun ia bukanlah
bagian atau termasuk dalam lingkungan tersebut. Lingkungan Psikologis
berhenti pada batas pinggir elips, Tetapi batas antara pribadi dan
lingkungan juga bersifat dapat ditembus. Hal ini berarti fakta fakta
lingkungan dapat mempengaruhi pribadi.
Secara matematis : P = f (LP)
Dan fakta fakta pribadi dapat mempengaruhi lingkungan.
Secara matematis : LP = f (LP)
c. Pribadi
Menurut
Lewin, pribadi adalah heterogen, terbagi menjadi bagian bagian yang
terpisah meskipun saling berhubungan dan saling bergantung. Daerah dalam
personal dibagi menjadi sel sel. Sel sel yang berdekatan dengan daerah
konseptual motor disebut sel sel periferal ;p; sel sel dalam pusat
lingkaran disebut sel sel sentral,s.
Sistem
motor bertidak sebagai suatu kesatuan karena biasanya lahannya dapat
melakukan suatu tindakan pada satu saat. Begitu pula dengan sistem
perseptual artinya orang hanya dapat memperhatikan dan mempersepsikan
satu hal pada satu saat. Bagian bagian tersebut mengadakan komunikasi
dan interdependen; tidak bisa berdiri sendiri.
C. Dinamika Kepribadian
Konsep-konsep
dinamika pokok dari Lewin yakni kebutuhan energi psikis, tegangan ,
kekuatan atau vektor dan valensi. Konstruk konstruk dinamik ini
menentukan lokomosi khusus dari individu dan cara ia mengatur struktur
lingkungannya, Lokomosi dan perubahan perunahan struktur berfungsi
mereduksikan tegangan dengan cara memuaskan kebutuhan. Suatu tegangan
dapat direduksikan dan keseimbanagan dipulihkan oleh suatu lokomosi
substitusi. Proses ini menuntut bahwa dua kebutuhan erat bergantungan
satu sama lain sehingga pemiasan salah satu kebutuhan adalah melepaskan
tegangan dari sistem kebutuhan lainnya.
Akhirnya,
tegangan dapat direduksikan dengan lokomosi lokomosi murni khayalan.
Seseorang yang berkhayal bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan yang
sulit atau menempati suatu jabatan yang tinggi mendapat semacam kepuasan
semu dari sekedar berkhayal tentang keberhasilan.
Dinamika kepribadian menrut Kurt Lewin:
1. Enerji
Menurut
Lewin manusia adalah system energi yang kompleks. Energi muncul dari
perbedaan tegangan antar sel atau antar region. Tetapi ketidakseimbangan
dalam tegangan juga bias terjadi antar region di system lingkungan
psikologis.
2. Tegangan
Tegangan ada dua yaitu tegangan yang cenderung menjadi seimbang dan cenderung untuk menekan bondaris system yang mewadahinya.
3. Kebutuhan
Menurut
Lewin kebutuhan itu mencakup pengertian motif, keinginan dan dorongan.
Menurut Lewin kebutuhan ada yang bersifat spesifik yang jumlahnya tak
terhingga, sebanyak keinginan spesifik manusia.
Tindakan (Action)
Disini dibutuhkan dua konsep dalam tindakan yang bertujuan didaerah lingkungan psikologis.
Valensi
Adalah
nilai region dari lingkungan psikologis bagi pribadi. Region dengan
valensi positif dapat mengurangi tegangan pribadi, akantetapi region
dengan valensi negative dapat meningkatkan tegangan pribadi (rasa
takut).
Vektor
Tingkah
laku atau gerak seseorang akan terjadi kalau ada kekuatan yang cukup
yang mendorongnya. Meminjam dari matematika dan fisika, Lewin menyebut
kekuatan itu dengan nama Vektor. Vektor digambar dalam ujud panah,
merupakan kekuatan psikologis yang mengenai seseorang, cenderung
membuatnya bergerak ke arah tertentu. Arah dan kekuatan vektor adalah
fungsi dari valensi positif dan negatif dari satu atau lebih region
dalam lingkungan psikologis. Jadi kalau satu region mempunyai valensi
positif (misalnya berisi makanan yang diinginkan), vektor yang
mengarahkan ke region itu mengenai lingkaran pribadi. Kalau region yang
kedua valensinya negatif (berisi anjing yang menakutkan), vektor lain
yang mengenai lingkaran pribadi mendorong menjauhi region anjing. Jika
beberapa vektor positif mengenai dia, misalnya, jika orang payah – dan
lapar – dan makanan harus disiapkan, atau orang harus hadir dalam
pertemuan penting – dan tidak punya waktu untuk makan siang, hasil
gerakannya merupakan jumlah dari semua vektor. Situasi itu Bering
melibatkan konflik, topik yang penelitiannya dimulai oleh Lewin dan
menjadi topik yang sangat Iuas dari Miller dan Dollard.
Lokomosi
Lingkaran
pribadi dapat pindah dari satu tempat ketempat lain di dalam daerah
lingkungan psikologis. Pribadi pindah ke region yang menyediakan
pemuasan kebutuhan pribadi-dalam, atau menjauhi region yang menimbulkan
tegangan pribadi-dalam. Perpindahan lingkaran pribadi itu disebut
lokomosi (locomotion). Lokomosi bisa berupa gerak fisik, atau perubahan
fokus perhatian. Dalam kenyataan sebagian besar lokomosi yang sangat
menarik perhatian psikolog berhubungan dengan perubahan fokus persepsi
dan proses atensi.
Event
Lewin
menggambarkan dinamika jiwa dalam bentuk gerakan atau aksi di daerah
ruang hidup, dalam bentuk peristiwa atau event. Telah dijelaskan di
depan, bahwa peristiwa (event) adalah hasil interaksi antara dua atau
Iebih fakta balk di daerah pribadi maupun di daerah lingkungan.
Komunikasi (hubungan antar sel atau region) dan lokomosi (gerak pribadi)
adalah peristiwa, karena keduanya melibatkan dua fakta atau lebih. Ada
tiga prinsip yang menjadi prasyarat terjadinya suatu peristiwa;
keterhubungan (related¬ness), kenyataan (concretness), kekinian (contemporary), sebagai berikut:
a. Keterhubungan:
Dua atau lebih fakta berinteraksi, kalau antar fakta itu terdapat
hubungan-hubungan tertentu, mulai dari hubungan sebab akibat yang jelas,
sampai hubungan persamaan atau perbedaan yang secara rasional tidak
penting.
b. Kenyataan:
Fakta harus nyata-nyata ada dalam ruang hidup. Fakta potensial atau
peluang yang tidak sedang eksis tidak dapat mempengaruhi event masa
kini. Fakta di luar lingkungan psikologis tidak berpengaruh, kecuali
mereka masuk ke ruang hidup.
c. Kekinian:
Fakta harus kontemporer. Hanya fakta masa kini yang menghasilkan
tingkahlaku masa kini. Fakta yang sudah tidak eksis tidak dapat
menciptakan event masa kini. Fakta peristiwa nyata di masa lalu atau
peristiwa potensial masa mendatang tidak dapat menentukan tingkahlaku
saat ini, tetapi sikap, perasaan, dan fikiran mengenai masa Ialu dan
masa mendatang adalah bagian dari ruang hidup sekarang dar mungkin dapat
mempengaruhi tingkahlaku. Jadi, ruang hidup sekarang harus mewakili isi
psikologi masa lalu, sekarang, dan masa mendatang.
Konflik
Konflik
terjadi di daerah lingkungan psikologis. Lewin mendefinisikar konflik
sebagai situasi di mana seseorang menerima kekuatan-kekuatan yang sama
besar tetapi arahnya berlawanan. Vektor-vektor yang mengenai pribadi,
mendorong pribadi ke arah tetentu dengan kekuatan tertentu. Kombinasi
dari arah dan kekuatan itu disebut jumlah kekuatan (resultant force),
yang menjadi kecenderungan lokomosi pribadi (lokomosi psikologikal atau
fisikal). Ada beberapa jenis kekuatan, yang bertindak seperti vektor,
yakni:
1. Kekuatan pendorong (driving force): menggerakkan, memicu terjadinya lokomosi ke arah yang ditunjuk oleh kekuatan itu.
2. Kekuatan
penghambat (restraining force): halangan fisik atau sosia menahan
terjadinya lokomosi, mempengaruhi dampak dari kekuatan pendorong
3. Kekuatan kebutuhan pribadi (forces corresponding to a persons needs): menggambarkan keinginan pribadi untuk mengerjakan sesuatu.
4. Kekuatan
pengaruh (induced force): menggambarkan keinginan dari orang lain
(misalnya orang tua atau teman) yang masuk menjadi region lingkungan
psikologis.
5. Kekuatan
non manusia (impersonal force): bukan keinginan pribadi tetap¬juga bu
kan keinginan orang lain. Ini adalah kekuatan atau tuntutan da¬fakta
atau objek.
Konflik tipe 1:
Konflik
yang sederhana terjadi kalau hanya ada dua kekuatan berlawana¬yang
mengenai individu. Konflik semacam ini disebut konflik tipe 1
(Gambar-15a). Ada tiga macam konflik tipe 1:
a. Konflik
mendekat-mendekat, dua kekuatan mendorong ke arah yang berlawanan,
misalnya orang dihadapkan pada dua pilihan yang sama¬sama disenanginya.
b. Konflik
menjauh-menjauh, dua kekuatan menghambat ke arah yang yang berlawanan,
misalnya orang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak
disenanginya.
c. Konflik
mendekat-menjauh, dua kekuatan mendorong dan menghambat muncul dari
satu tujuan, misalnya orang dihadapkan pada pilihan sekaligus mengandung
unsur yang disenangi dan tidak disenanginya.
Konflik tipe 2:
Konflik
yang kompleks bisa melibatkan lebih dari dua kekuatan. Konflik yang
sangat kompleks dapat membuat orang menjadi diam, terpaku atau
terperangkap oleh berbagai kekuatan dan kepentingan sehingga dia tidak
dapat menentukan pilihan, adalah konflik tipe 2.
Konflik tipe 3
Orang
berusaha mengatasi kekuatan-kekuatan penghambat, sehingga konflik
menjadi terbuka,ditandai sikap kemarahan,agresi,pemberontakan atau
sebaliknya penyerahan diri yang neorotik. Pertentangan antar kebutuhan
pribadi-dalam, konflik antar pengaruh,dan pertentangan antar kebutuhan
dengan pengaruh,menimbulkan pelampiasan usaha untuk mengalahkan kekuatan
penghambat.
Tingkat Realita
Konsep
realita menurut Lewin adalah realita berisi lokomosi aktual,dan tak-tak
realita berisi lokomosi imajinasi. Realita dan tak realita adalah suatu
kontinum dari ekstrim realita sampai ekstrim tak realita. Lokomosi
mempunyai tingkat realita dan tak realita berbeda-beda.
Menstuktur Lingkungan
Lingkungan psikologi adalah konsep yang sangat mudah berubah. Dinamika dari lingkungan dapat berubah dengan 3 cara yakni:
a. Perubahan
valensi : Region bisa berubah secara kuantitatif-valensinya semakin
positif atau semakin negatif,atau berubah secara kualitatif dari positif
menjadi negatif atau sebaliknya region baru bisa muncul dan region lama
bisa hilang.
b. Perubahan vektor : Vektor mungkin dapat berubah dalam kekuatan dan arahnya.
c. Perubahan
Bondaris : Bondaris mungkin menjadi semakin permeabel atau semakin
tidak permeabel,mungkin muncul sebagai bondaris atau tidak muncul
sebagai bondaris.
Mempertahankan Keseimbangan
Dalam
sistem reduksi tegangan,tujuan dari proses psikologis adalah
mempertahankan pribadi dalam keadaan seimbang. Yang paling umum dan
paling efektif untuk mengembalikan keseimbangan adalah melalui lokomosi
dalam lingkungan psikologis,memindah pribadi ke region tempat objek yang
bervalensi positif(yang memberi kepuasan). Tapi kalau region yang
diinginkan mempunyai bondaris yang tak permeabel tegangan terkadang
dapat dikurangi(dan keseimbangan dapat diperoleh)dengan melakukan
lokomosi pengganti,pindah ke region yang dapat memberi kepuasan
lain(yang bondarisnya permeabel) ternyata dapat menghilangkan tegangan
dari system kebutuhan semula.
Kecenderungan
mencapai keseimbangan itu tidak berarti membuat diri seimbang
sempurna,tetapi menyeimbangkan semua tegangan dalam daerah
pribadi-dalam. Lewin menjelaskan bahwa dalam sistem yang kompleks
menjadi seimbang bukan berarti hilangnya tegangan,tetapi mempeoleh
keseimbangan dari tegangan internal. Tujuan utama dari perkembangan
psikologis adalah menciptakan semacam struktur internal yang menjamin
keseimbangan psikologis bukan membuat bebas tegangan.
D. Perkembangan Kepribadian
Menurut Lewin hakekat Perkembangan Kepribadian itu adalah :
1. Diferensiasi
Yaitu
semakin bertambah usia, maka region region dalam pribadi seseorang
dalam LP-nya akan semakin bertambah. Begitu pula dengan kecakapan
kecakapan/ keterampilan keterampilannya.
Contoh : orang dewasa lebih pandai menyembunyikan isi hatinya daripada anak-anak (region anak lebih mudah ditembus).
2. Perubahan dalam variasi tingkah lakunya
3. Perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah lakunya lebih kompleks.
4. Bertambah luas arena aktivitas
contoh: Anak kecil terikat oleh masa kini sedangkan orang dewasa terikat oleh masa kini, masa lampau dan masa depan.
5. Perubahan dalam realitas.
Dapat membedakan yang khayal dan yang nyata, pola berpikir meningkat,
contohnya dari pola berpikir assosiasi menjadi pola berpikir abstrak.
Bagi Lewin perkembangan tingkah laku merupakan fungsi dari pribadi dan lingkungan psikologis.
Kepribadian menurut Gordon Willard Allport
A. Latar Belakang Tokoh
Gordon Willard Allport lahir pada 11 November 1897 di Montezuma, Indiana. Dia adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ibunya, Nellie Wise Allport adalah seorang guru dan ayahnya, Jhon E. Allport adalah seorang pengusaha yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Ibu Allport sangat taat terhadap agamanya sehingga ajaran tersebut diterapkan terhadap kehidupan rumah tangganya. Oleh karena itu, Allport menghabiskan masa kecil yang dipenuhi perjuangan untuk mendapat perhatian dari beberapa teman yang dimilikinya, karena dia jarang diijinkan bermain dengan saudaranya yang rentang usianya terpaut jauh dengannya. Allport mengaku pada dasarnya dia bukanlah orang yang memiliki antusiasme dan rasa ingin tahu yang tinggi, Allport sangat tergantung pada orang lain dan kurang memiliki inspirasi. Namun dia memiliki kemampuan yang baik dengan kata-kata, meskipun dia tidak terbilang mahir dalam bidang olahraga.
Pada tahun 1915, Allport lulus dengan peringkat kedua di kelasnya dan mendapatkan beasiswa di Univertsitas Harvard. Setelah mendapatkan A.B. Sarjana Filsafat dan Ekonomi dari Harvard pada tahun 1919, Allport melakukan perjalanan ke Istanbul, Turki untuk mengajar filsafat dan ekonomi. Setelah satu tahun mengajar, ia kembali ke Harvard untuk menyelesaikan studinya. Allport meraih gelar Ph.D. Psikologi pada tahun 1922.
Dalam sebuah esai berjudul ‘Pattern and Growth in Personality’, Gordon Allport menceritakan pengalamannya bertemu Psikiater Sigmund Freud. Saat menemui Freud pertama kalinya, Allport disambut oleh keheningan. Freud tidak menyapa dan tidak berbicara sepatah kata pun, sampai akhirnya Allport membuka pembicaraan dengan menceritakan apa yang dilihatnya dalam perjalanan menuju kediaman Freud. “Aku melihat seorang anak kecil di angkutan umum yang sangat takut badannya menjadi kotor, dia berganti-ganti tempat duduk, bahkan meminta pada ibunya jangan mengijinkan orang yang badannya kotor untuk duduk di sebelahnya”. Freud balik bertanya “Apakah anak kecil itu kamu ?”. Peristiwa ini benar-benar tidak terlupakan oleh Allport, yang membuatnya yakin bahwa sudah saatnya ilmu psikologi tidak lagi hanya menekuni terlalu dalam dengan pengalaman masa lampau (alam bawah sadar), tapi mulai mengeksplorasi alam kesadaran dan motivasi-motivasi yang ada di dalamnya.
B. Definisi Kepribadian
Secara umum teori Allport memberi definisi yang positif terhadap manusia, teori Allport itu telah membantu manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuh harapan. Hal tersebut terlihat dari teorinya, yaitu” gambaran kodrat manusia adalah positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung”. Memandang satu pribadi positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat, inilah kelebihan dan kekuasan dari teori Allport.
Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kemudian Allport juga berpendapat bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi, Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita.
Dalam teori Allport juga memandang bahwa kesehatan psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang, dapat dikatakan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud.
Perkembangan Proprium
Allport mengemukakan bahwa semua fungsi diri atau fungsi ego yang telah dijelaskan disebut dengan fungsi proprium dari kepribadian. Fungsi-fungsi ini termasuk perasaan jasmaniah, identitas diri, harga diri, perluasan diri, rasa keakuan, pemikiran rasional, gambaran diri, usaha proprium, gaya kognitif dan fungsi mengenal. Semuanya merupakan bagian yang sebenarnya dan vital dari kepribadian. Fungsi-fungsi tersebut sama-sama memiliki suatu arti fenomenal dan “makna penting”. Fungsi-fungsi itu bersama disebut sebagai proprium. Proprium itu tidak dibawa sejak lahir, melainkan berkembang karena usia.
Allport menunjukkan tujuh aspek dalam perkembangan proprium atau ke-diri-sendiri-an (self hood). Selama 3 tahun pertama, tiga aspek muncul, yakni : rasa diri jasmaniah, rasa identitas-diri berkesinambungan dan harga-diri atau rasa bangga. Antara usia 4 sampai 6 tahun, dua aspek lainnya muncul, yakni : perluasan diri (the extension of self), dan gambaran diri. Suatu waktu antara usia 6 dan 12 tahun, anak mengembangkan kesadaran-diri sehingga ia dapat menanggulangi masalah-masalahnya dan akal pikiran. Selama masa remaja, munculah intensi-intesi, tujuan-tujuan jangka panjang, dan cita-cita yang masih jauh. Aspek-aspek ini disebut usaha proprium.
Dengan penjelasan seperti dia atas, Allport ingin menghindari pendapat yang mengundang pertanyaan dari banyak teoritikus yang menyatakan bahwa diri atau ego itu serupa manusia mikro (homunculus) atau “manusia yang berada di dalam dada” yang melakukan tugas mengorganisasikan, memegang kendali dan menjalankan sistem kepribadian. Ia mengakui pentingnya semua fungsi psikologis yang bersumber pada diri dan ego, namun ia berusaha keras menghindari teori yang memandang diri dan ego sebagai pelaku atau penggerak kepribadian. Bagi allport, diri dan ego dapat digunakan sebagai kata sifat untuk menunjukkan fungsi-fungsi proprium di dalam seluruh bidang kepribadian.
Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang Menurut Allport
Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:
1. Ekstensi sense of self
· Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
· Kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain beserta minat mereka.
· Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana)
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang).
3. Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal: mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi berbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
6. Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat agama. Untuk memahami orang dewasa kita membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu apa yang ia lakukan.
C. Struktur Kepribadian
Traits adalah kunci dalam mendefinisikan strukur kepribadian menurut Allport.. Allport berpendapat bahwa pengertian-pengertian kebiasaan, traits, sikap, diri (self) dan kepribadian itu masing-masing bermanfaat dan berbeda satu sama lain. Allport menekankan pada trait, di mana ia menyatakan bahwa intensi itu berbeda dari attitude. eori-teori Allport kemudian dinamakan “trait psychology”.
Di sisi lain, tanggapan Allport mengenai temperamen juga berbeda dan mendetail. Bagi Allport temperamen adalah konstitusi kejiwaan atau bagian dari jiwa yang melalui darah dan memiliki hubungan dengan jasmaniah / biologis dan bersifat hereditas, termasuk juga mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatan bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitat suasana hati; gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional.
Pada akhirnya, kontribusi terbesar Allport adalah teorinya mengenai Trait. Ia mengklasifikasikan beberapa trait, dan merevisinya menurut perkembangan teorinya sendiri. Dia berhasil membedakan antara trait sebagai hal yang dimiliki setiap induvidu sebagai identitas dan attitude yang dimiliki setiap individu. Sumbangsih terbesar Allport adalah pengembangan dan penarikan perhatian psikolog pada kepribadian terutama dari perspektif bagaimana individu memandang dirinya sendiri.
1. TRAITS (PERSONALITY TRAITS)
Traits menurut teori Allport adalah proses mental/neuropsikis yang berkapasitas dan mampu mengarahakan stimulus yang akan menghasilkan perilaku yang adaptif atau ekspresif.
1. Karakter Traits
Menurut Allport ada beberapa karakteristik traits:
· nyata dan benar-benar ada di setiap individu, bukan hanya sekadar label dan sebutan (claim)
· menjadi kausal (sebab) dari suatu perilaku yang biasanya terjadi
· empiris (bisa di identifikasi indra)
· masing masing salaing berkorelasi
· fleksibel dan berubah sesuai situasi(versatilitas)
2. Individual Traits dan Common Traits
Berdasarkan teorinya mengenai distifikasi antara Trait dan Attitude, Allport kemudian mengklasifikasikan traits dalam 2 bentuk :
· Individual Traits : keunikan pada seseorang dan menunjukkan karakter mereka.
· Common Traits : perilaku yang dilakukan oleh sejumlah manusia, misalnya sebagai bagian dari budaya.
3. Personal Dispositions
Allport merevisi beberapa teori sebelumnya (dalam terminologi) . personal dispositions artinya dimana perilaku tidak memiliki intensitas dan signifikansi yang sama.
· Cardinal traits adalah sifat yang berperan besar dalam kehidupan dan trait yang kuat
· Central traits adalah sifat yang lebih umum dan khas yang menonjol dari perilaku manusia itu sendiri.
· Secondary traits adalah sifat yang lebih spesifik dan tidak terlalu mendeskripsikan kepribadian. Sifat ini berfungsi lebih terbatas, khusus pada respons yang didasarnya serta perangsang tertentu dan tidak konsisten.
Habit (kebiasaan) adalah respon yang tidak fleksibel dan spesifik terhadap suatu stimuli, bisa bergabung/dikombinasikan dengan trait lain.
Attitudes (sikap) adalah makna yang hampir sama dengan traits, kecuali bahwa attitudes memiliki objek tertentu yang lebih spesifik, dan melibatkan pertimbangan dan evaluasi baik positif maupun negatif (baik mendukung atau menolak).
Perbedaan antara sifat (trait) dan sikap (Attitude) termasuk sulit dalam teori Allport. kedua-duanya itu adalah respons dan memiliki kekhasan, selain itu keduanya juga dapat memulai atau membimbing tingkah laku hal ini juga diperngaruhi hasil dari faktor genetis-genetis dan belajar. Namun kalau diteliti terdapat perbedaan antara kedua hal tersebut.
SIKAP (ATTITUDE) |
SIFAT (TRAIT) |
-berhubungan dengan suatu objek-cenderung berlingkup kecil-dapat berbeda-beda dari yang khusus ke lebih umum-biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) |
-tidak berhubungan dengan suatu objek-sifat yang hampir selalu besar dan ruang lingkup yang luas-selalu bersifat umum-tidak memeberikan penilaian |
2. INTENSI
Penyelidikan mengenai intensi atau keinginan individu mengenai masa depan lebih penting daripada kejadian di masa lalu (Allport). Istilah intensi menurut Allport meliputi beberapa pengertian:
· harapan-harapan
· keinginan-keinginan
· ambisi
· cita-cita
· niat untuk melakukan sesuatu.
Dalam hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain ahli teori kepribadian dewasa ini. Teori Allport menunjukkan, bahwa apa yang akan dicoba dilakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal terpenting bagi apa yang dikerjakannya sekarang. Jadi kalau dewasa ini, banyak ahli yang mengutamakan masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan pendapat Adler dan Jung; walaupun tidak ada alasan untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini.
3. TYPE
Allport membedakan antara sifat dan type. Menurut Allport, orang dapat memiliki suatu sifa, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu type. Type adalah konstruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individuilnya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan type lebih menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, type menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang tidak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
4. PROPARIUM
Proprium adalah istilah yang diciptakan Allport yang mengindikasikan semua fungsi self atau ego. Hal ini juga disebut fungsi proprium (propriate function) daripada kepribadian. Fungsi tersebut adalah kesadaran jasmani, self identity, self-esteem, self extention, rational thinking, self image, propriate stiving, dan fungsi mengenal. Semua itu bagian-bagian yang vital daripada kepribadian. Proprium tidak dibawa sejak lahir tetapi berkembang didalam perkembangan individu. Allport menggunakan kata proprium daripada self karena lebih mudah dipahami sebagai sifat atau fungsi kepribadian secara umum.
Ada tujuh aspek dalam perkembangan proporium :
1. Bodily Self : tahap 1-3.Pada 3 tahun pertama, bayi menjadi lebih peduli terhadap keberadaan dirinya dan membedakan tubuhnya dari objek-objek yang ada disekitarnya.
2. Self Identity : anak-anak membuktikan dan menemukan identitas mereka tetap terlepas dari perubahan di lingkungan mereka.
3. Self-esteem : anak-anak mulai bangga pada prestasi (pencapaian) yang mereka raih.
4. Extension of self : tahap ke 4-5. umur 4 sampai 6 tahun. Pada masa ini anak mengakui objek-objek yang ada di sekitarnya dan orang-orang disekitar lingkungan mereka.
5. Self-image : anak-anak mengembangkan gambaran aktual dan idealis dalam diri mereka dan perilaku mereka serta menjadi lebih peduli terhadap kepuasan (atau ketidakpuasan) terhadap harapan Orangtua.
6. Self as a rational coper : tahap 6. Umur 6-12 tahun, anak-anak mulai mengapli-kasikan alasan dan pengetahuan untuk mencapai solusi terhadap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
7. Propriate striving : tahap 7. pada masa remaja awal (sebelum teenage) mulai membentuk tujuan jangka panjang dan rencana.
D. Dinamika atau Proses Kepribadian
Allport menekankan bahwa pengaruh keberadaan seseorang pada masa sekarang tidak hanya ada di dalam teori kepribadiannya tetapi juga ada dalam pandangan motivasinya. Dia juga menegaskan bahwa kehidupan masa lalu atau masa lampau tidak lagi dapat menjelaskan perilaku seseorang kedepannya, kecuali hanya sebagai motivasi saja. Sehingga allport hanya terfokus kepada kehidupan individu di masa depan ketimbang dimasa lalu.
Allport menentang teory Freud yang terfokus pada alam bawah sadar seseorang. Menurut Allport proses kognitif seseorang juga memiliki peran penting, yang mana suatu rencana dan tujuan seseorang dibuat secara sadar. Sehingga ia menyimpulkan bahwa kehidupan di masa lalu tidak ada hubungan dan sangkutpautnya dengan kehidupan mendatang dari tiap individu, kehidupan masa lalu itu hanya sebagai motivasi atau dukungan kearah yang lebih baik.
Kemudian Allport juga menjelaskan proses dari kepribadian itu dalam sebuah konsepnya, “functional autonomy”. Konsep ini menjelaskan bahwa motif kematangan, kesehatan emosional seseorang tidak terhubung secara fungsional kepada pengalamannya di masa lalu sejak ia lahir. Dari konsep tersebut dapat diketahui bahwa allport berpendapat bahwa motivasi dari tiap individu itu bersifat independent dan tidak terikat atau terhubung dengan hal yang lainnya.
Konsep ini terdiri atas dua level fungsi otonom, yaitu Perseverative functional autonomy dan Propriate functional autonomy.
· Perseverative functional autonomy merupakan level yang dasar, berkaitan dengan perilaku seseorang yang sudah menjadi kegiatan rutin, seperti kecanduan atau tindakan fisik yang berulang. Contohnya : perokok.
· Propriate functional autonomy merupakan level yang lebih penting ketimbang level Perseverative functional autonomy dan penting untuk pemahaman motivasi dewasa dihubungan pada nilai-nilai, self-image, dan gaya hidup.
Selain itu, terdapat tiga prinsip pada level propriate functional autonomy, yaitu:
1. Organizing the energy level, menjelaskan bagaimana kita memperoleh motif baru
2. Mastery and competence, mengacu pada level yang mana akan kita pilih untuk memuaskan motif
3. Propriate patterning, menjelaskan perjuang (usaha) terhadap konsistensi dan integrasi kepribadian
E. Perkembangan Kepribadian
Menurut Allport perkembangan kepribadian manusia akan selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu.
3 Fase perkembangan Allport :
Anak-anak
transformasi anak – anak
masa dewasa
1. Masa Anak – Anak
Masa ini dimulai dari masa neonatus yang menjadi awal perkembangan dari kepribadian anak. Pada masa perkembangan ini anak mulai bisa melakukan gerakan refleks yang belum bisa dibedakan. Ekspresi emosi anak pada masa ini cenderung monoton dan akan mengalami perkembangan sesuai dengan masa yang dilewatinya.
2. Masa Transformasi Anak – Anak
Pada masa ini, perkembangan kepribadian seseoarang akan terlihat dari :
diferensiasi
integrasi
pematangan
belajar
kesadaran (sugesti)
harga diri
inferioritas ataupun kompensansi
mekanisme psikoanalitis
otonomi fungsional
reorintasi mendadak trauma
objektivitas
insting
humor
pandangan hidup
3. Masa Dewasa
Merupakan masa terpenting dalam perkembangan kepribadian seseorang. Masa – masa ini sangat menentukan bentuk kepribadian seseorang melalui tingkah laku yang ditujukannya.
Menurut Allport, seseorang dikatakan dewasa, jika :
mulai bisa memproyeksikan kebutuhannya tidak hanya untuk masa sekarang tapi untuk masa yang akan datang (extension self)
mulai mengenal apa yang diinginkannya dan yang menjadi kebutuhannya serta mengerti akan hal – hal yang bisa memberikan kesenangan pada dirinya (insight & humor)
mengerti arti dan tujuan hidup yang dijalaninya, mulai memiliki pandangan hidup atau filsafat hidup yang terus dipertahankan.
Pada masa perkembangan kepribadian, unsur religius menjadi unsur yang sangat penting untuk membentuk kepribadian seseorang.
F. Psikopatologi dan Perubahan Perilaku
Psikopatologi adalah bidang yang mempelajari patologi / kelainan dari proses kejiwaan. Bagi Allport, pribadi yang sehat dan matang adalah orang yag terus menerus dalam kondisi berubah (becoming), sedang pribadi yang tidak sehat adalah mereka yang perkembangannya berhenti. Allport setuju dengan Freud bahwa perkembangan individu dapat terpenjara sebagai akibat kesalahan hubungan dengan orangtua, khususnya dengan ibunya pada awal masa kanak-kanak . Semua orang membutuhkan keamanan dan perlindungan ,dan kekurangan cinta dan kasih sayang dapat berdampak buruk dan berjangka lama terhadap pertumbuhan .
Untuk mengatasi kekurangan itu, Allport berpendapat orang harus dapat merasa “diterima dan dikehendaki oleh terapis, keluarga dan masyarakatnya”. Orang harus merasa dicintai dan belajar mencintai .Menurutnya,”bentuk terbaikdari terapi adalah memberri cinta dan menerima cinta .”
Tetapi itu hanya satu sisi dari gambaran manusia dari gambaran manusia . Ada banyak orang yang memilki latarbelakang rasa aman dan cinta ternyata belakangan menjadi neurotik . Walaupunn latar belakang keamanan dan cinta membuat mereka bebas berkembang ,masalah lain muncul merusak . Orang mendapat tekanan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat normal, dan sering penyesuaian itu menghalangi pertumbuhan yang positif . Ini terjadi karena masyarakat sendiri sedang sakit . Kondisi masyarakat yang penuh ketidakadilan, hipokrit (munafik) perang, perbedaan kelas sosial, adalah potensial berbenturan dengan aspirasi pribadi.
Dampaknya bisa muncul perbatasan perluasan diri , gambaran diri yang menyimpang , lumpuhnya usaha menjadi propiate, dan sikap tidak toleran kepada kelompok lain. Mereka juga menilai dirinya dan tujuan hidupnya berdasarkan nilai-nilai orang lain. Tugas–tugas terapi menurut Allport adalah membantu mereka menyadari sumber-sumber yang melencengkan tujuan hidupnya, dan membantu mereka mencapai kematangan dan kesejahteraan.
G. Assesment dan Riset
Allport menggunakan Personal Document Technique yang merupakan metode untuk mengetahui kepribadian yang melibatkan catatan-catatan harian, atau rekaman pembicaraan dengan subjek yang diteliti.
Nilai (Value)
Pada tahun 1920 seorang ahli bernama Eduard Spranger mengadakan penelitian mengenai minat dan motif, dengan meneliti nilai-nilai yang dimiliki individu tersebut. Allport sependapat dengan Spranger bahwasanya setiap individu memiliki nilai-nilai dalam kehidupannya, yang berbeda tingkat dominansinya, yang akan mempengaruhi kepribadiannya.
Nilai teoritis
Nilai ekonomis
Nilai estetika
Nilai sosial
Nilai politis
Nilai religious


